Dapatkan penawaran menarik sekarang →

8 Tahap Penyusunan Audit Plan, Fungsi, dan Contohnya

audit plan

Rekomendasi Topik

Bagikan Artikel

Siap Tingkatkan Proses Audit Internal Anda?

Temukan fitur lengkap Audithink dan pilih paket harga yang cocok untuk tim audit Anda. Mulai transformasi audit sekarang!

Daftar Isi

Audit plan adalah perancangan terencana untuk memandu proses audit agar lebih terarah, sistematis, dan komprehensif. Meskipun belum masuk dalam tahap audit, tetapi proses ini penting untuk diperhatikan oleh auditor. Mengingat, perencanaan ini dapat menentukan kesuksesan penugasan audit.

Audit plan merupakan proses yang diawali dengan pemahaman, identifikasi, dan penilaian, tidak hanya membantu perusahaan menyajikan laporan keuangan yang akurat, tetapi juga menemukan tindak kecurangan lebih awal. Dengan demikian, perusahaan dapat menjaga keberlangsungan bisnisnya.

Pengertian Audit Plan

Audit plan adalah rencana audit yang dibuat oleh auditor. Proses ini merupakan tahap pertama dalam serangkaian proses audit. 

Hal-hal yang dirumuskan dalam rencana audit adalah tujuan, ruang lingkup, risiko, sumber daya, jadwal, anggaran biaya, rancangan proses dan prosedur audit, hingga anggota audit yang terlibat. 

Jadi, audit plan juga dapat disebut sebagai rancangan dasar untuk menyusun program audit yang lebih detail.

Perbedaan Audit Plan dan Audit Program

Audit plan umumnya dilakukan sebelum audit program dirumuskan. Berikut beberapa perbedaan antara keduanya.

  • Tujuan – rencana audit menguraikan tujuan dan sasaran keseluruhan audit. Audit program menguraikan langkah-langkah dan prosedur spesifik yang akan ditempuh auditor.
  • Ruang lingkup – rencana audit mendeskripsikan ruang lingkup audit serta area dan transaksi yang akan diperiksa. Audit program merinci prosedur khusus yang akan digunakan untuk menguji area dan transaksi tersebut.
  • Waktu pelaksanaan – rencana audit dilakukan selama fase perencanaan. Biasanya, tahap ini membutuhkan waktu yang lebih lama, karena menguraikan strategi audit secara keseluruhan. Sedangkan audit program dilaksanakan selama fase eksekusi dan berlangsung lebih singkat.
  • Fleksibilitas – rencana audit dapat disesuaikan bersamaan dengan pelaksanaan audit. Audit program memiliki kemungkinan kecil untuk diubah, karena terdiri dari prosedur terperinci dan spesifik.
  • Format – rencana audit berisi rancangan mendasar, sedangkan program audit berisi hal-hal rinci.
  • Penerima hasil audit – rencana audit dibuat untuk manajemen dan pemangku kepentingan. Program audit dibuat untuk tim audit dan pihak internal lainnya.

Fungsi dan Peran Audit Plan dalam Proses Audit

Fungsi dan peran audit plan tidak hanya sebatas membantu auditor memastikan setiap tahapan audit dilakukan secara sistematis, efisien, dan sesuai dengan standar yang berlaku. Berikut adalah beberapa peran dan fungsi audit plan:

  • Alokasi waktu dan sumber daya lebih optimal, sehingga perusahaan dapat menghindari pemborosan.
  • Potensi risiko dapat diidentifikasi sejak awal dan solusi dapat dirancang dengan tepat.
  • Audit plan berperan sebagai alat koordinasi yang efektif. Perusahaan dapat memastikan semua anggota tim bekerja untuk tujuan yang sama.
  • Rencana audit menjadi bagian dokumentasi penting. Keberadaannya mampu menunjukkan bahwa audit telah dilakukan secara profesional dan sistematis.
  • Mendukung proses audit yang lebih cepat, karena semua tahapan sudah direncanakan dengan matang.
  • Menghindari masalah hukum di masa depan, karena rencana audit dapat menjadi parameter standar kualitas dan kepatuhannya terhadap aturan yang ada.
  • Mendukung identifikasi dan penanggulangan kelemahan dalam pengendalian internal.
  • Mendukung identifikasi area paling berisiko dan inefisiensi, sehingga perusahaan dapat menghemat biaya.
  • Rencana audit memberikan informasi berharga kepada manajemen, sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan efektif.
  • Meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan, seperti pelanggan dan investor.

Tahapan Penyusunan Audit Plan

1. Menjalankan Prosedur Penilaian Awal Klien

Tahap pertama audit plan adalah tahap penilaian terhadap klien untuk melihat apakah klien tertentu layak dan aman untuk diterima, sehingga dapat dilanjutkan penugasannya. 

Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah membicarakan latar belakang perusahaan klien, persyaratan etis yang dimiliki perusahaan klien, komunikasi dengan auditor sebelumnya, kebutuhan ahli di bidang tertentu, pemilihan anggota tim audit, dan surat kesepakatan antara kedua belah pihak.

2. Memperoleh Pemahaman atas Proses Audit dengan Klien

Selanjutnya, auditor dan klien memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam proses audit, serta ketentuan-ketentuan dalam surat kesepakatan. 

3. Mengembangkan Strategi Audit

Tahap ketiga dalam audit plan adalah auditor mengembangkan strategi audit untuk merespon risiko kesalahan penyajian dalam pelaporan keuangan. Strategi audit mencakup beberapa hal sebagai berikut.

  • Karakteristik yang terkait dengan proses audit, seperti kerangka pelaporan yang digunakan.
  • Tanggal pelaporan
  • Tingkat materialitas
  • Penilaian risiko dan pengambilan keputusan untuk menilai efektivitas pengendalian internal.
  • Rencana pemanfaatan sumber daya yang tersedia

4. Memilih Anggota Tim Audit

Parameter pemilihan anggota tim audit adalah kompetensi yang relevan dengan perusahaan klien. Selain itu, anggota tim audit juga harus memiliki pemahaman mengenai standar profesional dan kode etik akuntan. Tim audit terdiri dari ketua, rekan (partner), staf audit senior, dan staf audit junior.

5. Mempertimbangkan Penggunaan Bantuan Tenaga Ahli

Dalam proses audit plan, tim audit juga dapat mempertimbangkan penggunaan ahli tertentu di luar bidang akuntansi. Mengingat, tidak semua risiko, transaksi, dan aktivitas perusahaan dapat dinilai secara memadai hanya dengan keahlian akuntansi. Jadi, tim audit dapat menggunakan ahli IT, pajak, lingkungan, teknik, dan lain sebagainya.

6. Memahami Kondisi Lingkungan Bisnis Klien

Selanjutnya, auditor memahami kegiatan bisnis klien. Tahap ini adalah bagian penting dalam proses penilaian risiko, karena setiap industri dan perusahaan memiliki risiko salah saji yang berbeda-beda. 

Kondisi lingkungan bisnis itu meliputi lingkungan internal, eksternal, ekonomi perusahaan, peraturan pelaporan keuangan, hingga dampak kompetensi bisnis. Nantinya, hasil penilaian risiko digunakan untuk menentukan seberapa banyak bukti audit yang harus diperoleh.

7. Penilaian Risiko

Setelah memiliki pemahaman yang cukup terhadap bisnis klien, auditor menilai risiko-risiko yang muncul saat ini pada bisnis klien. Penilaian risiko umumnya dilakukan dengan mengidentifikasi efektivitas implementasi pengendalian internal dengan berpedoman pada kerangka Committee of Sponsoring Organizations of Treadway Commission (COSO).

8. Menjalankan Prosedur Analitis

Menurut ISA 520, Standar Audit Internasional, prosedur analitis adalah evaluasi informasi keuangan melalui identifikasi data keuangan dan non-keuangan dan penyelidikan fluktuasi atau hubungan yang tidak konsisten.

Pada tahap ini, auditor harus membandingkan laporan keuangan klien dengan ekspektasi perusahaan dan auditor, rasio atau tren keuangan klien dengan perusahaan sejenis, dan tren kenaikan atau penurunan akun antar periode.

Contoh Audit Plan

Untuk mendapatkan ilustrasi jelas mengenai audit plan, berikut adalah contoh penyusunannya pada PT SKN. 

  1. Menjalankan prosedur penilaian klien – auditor menyatakan bahwa perusahaan memiliki rekam jejak yang baik dan tidak ada indikasi pelanggaran hukum yang signifikan, sehingga auditor memutuskan menerima penugasan audit.
  2. Memperoleh pemahaman atas proses audit dengan klien – auditor memahami proses bisnis dan alur audit, menjelaskan ruang lingkup audit, metode pengumpulan bukti, jadwal pemeriksaan, dan tanggung jawab masing-masing pihak.
  3. Mengembangkan strategi audit – auditor menyusun strategi audit untuk akun pendapatan, piutang usaha, dan aset tak berwujud.
  4. Memilih anggota tim audit – auditor memilih 1 audit partner sebagai penanggung jawab utama, 1 audit manager, 2 audit senior, dan 1 audit junior.
  5. Mempertimbangkan penggunaan bantuan tenaga ahli – auditor menggunakan tenaga ahli IT untuk membantu menilai keamanan sistem, pengakuan aset digital, dan risiko teknologi informasi yang berdampak pada laporan keuangan.
  6. Memahami kondisi lingkungan bisnis klien – auditor mempelajari tingkat persaingan, regulasi perlindungan data, dan perkembangan teknologi yang cepat.
  7. Penilaian risiko – auditor mengidentifikasi risiko salah saji material, seperti risiko pengakuan pendapatan yang tidak tepat, piutang tidak tertagih, dan kesalahan penilaian aset tak berwujud.
  8. Menjalankan prosedur analitis – auditor membandingkan realisasi pendapatan dengan anggaran perusahaan, rasio keuangan PT SKN dengan perusahaan sejenis, serta tren pendapatan dan biaya yang dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Penutup

Perencanaan merupakan pondasi utama dalam setiap proses audit, termasuk dalam penyusunan audit plan. Auditor tidak hanya dituntut menguasai aspek akuntansi, tetapi juga mampu merancang rencana audit yang matang dan terarah. 

Dengan rencana audit yang tepat, proses audit dapat berjalan lebih efektif sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap hasil pemeriksaan. Untuk mengoptimalkan proses audit mulai dari tahap perencanaan hingga monitoring, gunakan aplikasi audit Audithink.

Software audit ini dirancang dengan menggunakan risiko sebagai parameter untuk rencana audit selanjutnya. Memungkinkan auditor dapat fokus pada area paling kritis dan memberikan kualitas audit yang lebih tinggi. Jadwalkan demo aplikasi sekarang juga atau hubungi tim Audithink untuk membantu menyesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Artikel Terkait

teknik audit
Audit komunikasi
audit pengadaan barang dan jasa

Cari tahu bagaimana penerapan aplikasi audit dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan secara berkelanjutan.

Konsultasi Kebutuhan Anda