Kertas kerja audit adalah dokumen yang dibuat auditor untuk mendokumentasikan seluruh informasi, bukti, dan analisis yang diperoleh selama proses audit. Dokumen ini disingkat KKA, dan dalam bahasa Inggris disebut audit working paper.
KKA bukan sekadar catatan kerja. Dokumen inilah yang menjadi bukti pendukung atas opini auditor terhadap kewajaran laporan keuangan, sekaligus bukti bahwa audit dijalankan sesuai standar profesional. Tanpa kertas kerja yang memadai, sebuah opini audit praktis tidak dapat dipertahankan bila dipertanyakan.
Artikel ini membahas pengertian kertas kerja audit, unsur dan isinya, tujuan serta fungsinya, karakteristik KKA yang baik, jenis-jenisnya, arsip permanen dan arsip kini, contoh format, cara membuatnya, hingga ketentuan penyimpanannya.
Apa Pengertian Kertas Kerja Audit (KKA)?
Kertas kerja audit adalah catatan yang dibuat dan dikumpulkan oleh auditor selama penugasan audit, memuat informasi dan bukti yang mendasari kesimpulannya. KKA menjadi penghubung antara pekerjaan yang dilakukan auditor di lapangan dengan opini audit yang akhirnya diterbitkan.
KKA adalah singkatan dari apa?
KKA adalah singkatan dari Kertas Kerja Audit. Di lingkungan audit sektor publik dan pemeriksaan internal pemerintah, istilah yang sering dipakai adalah KKP atau kertas kerja pemeriksaan. Keduanya merujuk pada dokumentasi yang sama, hanya berbeda konvensi penyebutan.
Apakah Working Paper Sama dengan Kertas Kerja Audit?
Working paper adalah padanan bahasa Inggris dari kertas kerja, dan dalam konteks audit ditulis lengkap sebagai audit working paper. Istilah ini banyak dipakai di kantor akuntan publik yang mengacu pada standar internasional, sementara dokumen dan regulasi berbahasa Indonesia umumnya menyebutnya kertas kerja audit atau KKA. Tidak ada perbedaan makna di antara keduanya.
Apa Saja Unsur dan Isi Kertas Kerja Audit?
Unsur informasi yang terdapat dalam kertas kerja audit mencakup identitas penugasan, dokumentasi pekerjaan, serta simpulan yang ditarik auditor. Berikut unsur yang umumnya wajib ada dalam setiap lembar KKA.
| Unsur | Isi | Fungsinya |
|---|---|---|
| Identitas | Nama entitas yang diaudit, periode audit, nama akun atau proses yang diperiksa | Memastikan kertas kerja tidak tertukar antar penugasan |
| Indeks dan referensi silang | Kode penomoran KKA dan rujukan ke kertas kerja lain yang terkait | Memudahkan penelusuran dari temuan ke bukti pendukungnya |
| Tujuan pengujian | Asersi atau risiko yang hendak diuji melalui prosedur tersebut | Menghubungkan pekerjaan lapangan dengan rencana audit |
| Prosedur yang dijalankan | Uraian langkah pengujian, sumber data, dan luas sampel | Menunjukkan bahwa pekerjaan dapat diulang dan diverifikasi |
| Bukti dan hasil | Salinan dokumen, hasil perhitungan, catatan wawancara, tanda pengujian (tickmark) | Menjadi dasar faktual atas simpulan |
| Simpulan | Kesimpulan auditor atas tujuan pengujian tersebut | Menjembatani bukti dengan opini akhir |
| Pembuat dan penelaah | Nama serta tanggal penyusun dan pe-review | Menegaskan akuntabilitas dan jenjang supervisi |
Baca juga: Contoh Kertas Kerja Audit Perusahaan
Apa Tujuan, Fungsi, dan Manfaat Kertas Kerja Audit?
Manfaat kertas kerja audit bermuara pada empat fungsi utama berikut.
1. Mendukung Opini Auditor
KKA menjadi bukti kuat yang mendasari opini auditor atas kewajaran laporan keuangan. Melalui kertas kerja, auditor menunjukkan bahwa audit telah dijalankan secara menyeluruh dan kompeten, serta seluruh bukti relevan sudah dipertimbangkan sebelum opini diberikan.
2. Mendokumentasikan Proses Audit
KKA memuat catatan rinci seluruh tahapan audit yang dilalui, mulai dari perencanaan hingga penyelesaian. Dokumentasi ini penting untuk menunjukkan kepada regulator, penelaah mutu, maupun pengguna laporan keuangan bagaimana auditor bekerja dan mencapai kesimpulannya.
3. Meningkatkan Kualitas Audit
KKA yang tertata membantu auditor menjaga mutu pekerjaannya dengan beberapa cara:
- Memastikan semua bukti relevan telah dipertimbangkan dan dianalisis secara tepat.
- Membantu auditor mengidentifikasi dan mengatasi potensi masalah audit lebih awal.
- Meningkatkan konsistensi dan objektivitas audit antar penugasan.
4. Meningkatkan Akuntabilitas Auditor
Kertas kerja audit adalah bukti akuntabilitas auditor atas pekerjaannya. KKA dapat digunakan untuk menjelaskan dasar-dasar opini auditor kepada pihak lain sekaligus menunjukkan bahwa auditor telah memenuhi standar profesional yang berlaku.
Apa Saja Karakteristik Kertas Kerja Audit yang Baik?
Kualitas KKA menentukan kualitas audit secara keseluruhan. Berikut lima karakteristik kertas kerja audit yang baik dan benar.
1. Kelengkapan
KKA harus memuat semua informasi dan bukti relevan yang diperoleh selama proses audit, sehingga terlihat jelas bahwa auditor mempertimbangkan seluruh bukti sebelum memberikan opininya. Informasi yang dimuat mencakup program audit, bukti audit, analisis audit, laporan audit, serta kertas kerja pendukung lainnya.
2. Akurat
KKA harus bebas dari kesalahan dan mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Ketidakakuratan dalam kertas kerja membawa tiga konsekuensi: menimbulkan keraguan atas kredibilitas auditor, berpotensi menghasilkan opini yang tidak tepat, serta membuka celah manipulasi informasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
3. Terorganisir
KKA harus tertata dengan sistem penomoran dan penamaan yang konsisten dan logis. Kertas kerja yang terorganisir memudahkan auditor menemukan informasi yang dibutuhkan, membantu melacak kemajuan audit, dan meningkatkan efisiensi seluruh penugasan.
4. Jelas
KKA harus ditulis secara jelas dan ringkas dengan bahasa yang mudah dimengerti, menghindari istilah teknis yang berlebihan. Ukuran praktisnya sederhana: auditor lain yang tidak terlibat dalam penugasan harus dapat memahami apa yang dikerjakan hanya dengan membaca kertas kerjanya.
5. Konsisten
KKA harus konsisten dengan program audit, laporan audit, dan informasi lain yang diperoleh selama penugasan. Tidak boleh ada kontradiksi antara isi kertas kerja dengan simpulan yang dilaporkan, karena inkonsistensi semacam itu langsung melemahkan opini auditor.
Apa Saja Jenis dan Bentuk Kertas Kerja Audit?
Kertas kerja audit hadir dalam berbagai bentuk, masing-masing dengan kegunaannya sendiri dalam mendukung penugasan. Berikut lima jenis KKA yang umum digunakan.
1. Program Audit
Berisi rencana audit yang akan dilaksanakan, mencakup tujuan audit, prosedur audit, dan pengujian yang akan dijalankan. Program audit disusun sebelum pelaksanaan dan berfungsi sebagai panduan auditor selama penugasan berlangsung.
2. Bukti Audit
Berisi informasi dan bukti yang diperoleh auditor selama proses audit, yang dapat berupa:
- Salinan dokumen: faktur, kuitansi, kontrak, dan laporan keuangan.
- Catatan auditor: hasil observasi, wawancara, dan pengujian.
- Analisis data: analisis rasio keuangan dan analisis tren.
3. Analisis Audit
Berisi analisis auditor atas informasi dan bukti yang diperoleh, mencakup penjelasan temuan audit, penilaian risiko salah saji material, serta pengembangan simpulan audit.
4. Laporan Audit
Berisi opini auditor terhadap kewajaran laporan keuangan beserta informasi penting lain yang diperoleh selama penugasan. Laporan audit merupakan hasil akhir proses audit dan ditujukan kepada manajemen entitas, dewan direksi, serta pengguna laporan keuangan.
5. Kertas Kerja Pendukung Lainnya
- Memo audit: catatan dan komunikasi internal antar anggota tim audit.
- Kertas kerja korespondensi: surat-menyurat dengan manajemen entitas maupun ahli eksternal.
- Kertas kerja rekonsiliasi: rekonsiliasi antara data yang diperoleh auditor dengan data dalam laporan keuangan.
Apa Beda Arsip Permanen dan Arsip Kini dalam KKA?
Dalam audit laporan keuangan, kertas kerja lazim dikelompokkan ke dalam dua berkas. Pembagian ini memisahkan informasi yang dipakai lintas tahun dari dokumentasi pengujian periode berjalan.
| Aspek | Arsip permanen (permanent file) | Arsip kini (current file) |
|---|---|---|
| Isi | Akta pendirian dan perubahannya, struktur organisasi, kontrak jangka panjang, kebijakan akuntansi, catatan pemahaman pengendalian internal | Program audit tahun berjalan, neraca lajur, skedul utama dan skedul pendukung, ringkasan jurnal penyesuaian, hasil konfirmasi, memo temuan |
| Masa pakai | Dipakai lintas periode dan diperbarui bila ada perubahan penting | Khusus untuk satu periode audit |
| Tujuan | Memberi pemahaman berkelanjutan tentang entitas | Mendokumentasikan pengujian dan simpulan periode berjalan |
Apa Itu Neraca Lajur, Skedul Utama, dan Skedul Pendukung?
Arsip kini biasanya disusun berjenjang. Neraca lajur (working trial balance) memuat saldo setiap akun sebelum dan sesudah penyesuaian. Dari sana, skedul utama (lead schedule) merangkum akun yang sejenis, misalnya seluruh rekening kas dan setara kas. Skedul pendukung (supporting schedule) berisi rincian dan pengujian tiap akun, misalnya rekonsiliasi bank untuk satu rekening. Indeks dan referensi silang menghubungkan ketiga lapis ini, sehingga penelaah dapat menelusuri angka di laporan keuangan sampai ke bukti pengujiannya.
Bagaimana Contoh Format Kertas Kerja Audit?
Contoh berikut adalah skedul pendukung sederhana untuk pengujian saldo kas. Nama entitas, inisial, dan angkanya hanya ilustrasi.
| Entitas | PT Contoh Sejahtera |
| Akun | Kas dan setara kas |
| Periode | 31 Desember 2025 |
| Indeks KKA | A-2 (skedul utama: A) |
| Disusun | RA, 12 Januari 2026 |
| Direviu | DS, 15 Januari 2026 |
| Rekening | Saldo per buku (Rp) | Saldo per bank (Rp) | Selisih (Rp) | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| Giro Bank A | 245.300.000 ✓ | 251.800.000 ¢ | 6.500.000 | Cek yang belum diuangkan, ditelusuri ke rekening koran Januari 2026 (A-2.1) |
| Giro Bank B | 118.750.000 ✓ | 118.750.000 ¢ | 0 | Cocok |
| Kas kecil | 5.000.000 ✓ | Tidak berlaku | 0 | Dihitung fisik pada 31 Desember 2025 (A-2.2) |
| Jumlah | 369.050.000 Σ | Cocok ke skedul utama A |
Legenda tanda pengujian: ✓ dicocokkan ke buku besar; ¢ dicocokkan ke jawaban konfirmasi bank; Σ dijumlah ulang; A-2.1 dan A-2.2 adalah referensi silang ke kertas kerja rincian.
Simpulan: saldo kas dan setara kas per 31 Desember 2025 sebesar Rp369.050.000 disajikan wajar. Tidak ada penyesuaian yang diusulkan.
Contoh KKA lain untuk audit internal ada di artikel contoh kertas kerja audit perusahaan.
Bagaimana Cara Membuat Kertas Kerja Audit?
- Mulai dari program audit. Setiap prosedur dalam program audit menjadi satu kertas kerja atau satu bagian kertas kerja.
- Isi identitas dan indeks. Cantumkan entitas, periode, akun atau proses, serta kode indeks sesuai sistem penomoran tim.
- Tulis tujuan pengujian. Sebutkan asersi atau risiko yang diuji agar penelaah tahu alasan prosedur dijalankan.
- Catat prosedur, sumber data, dan sampel. Uraian harus cukup rinci agar auditor lain dapat mengulang pengujian yang sama.
- Lampirkan bukti dan beri tanda pengujian. Setiap tickmark wajib dijelaskan dalam legenda.
- Tarik simpulan dan serahkan untuk direviu. Simpulan menjawab tujuan pengujian, lalu penyusun dan penelaah membubuhkan nama dan tanggal.
Apa Kesalahan Umum dalam Menyusun KKA?
- Tanda pengujian tanpa legenda, sehingga penelaah tidak tahu pengujian apa yang dilakukan.
- Simpulan tidak menjawab tujuan, misalnya hanya mengulang angka tanpa pernyataan wajar atau tidak.
- Referensi silang terputus antara skedul utama, skedul pendukung, dan bukti.
- Bukti tanpa sumber, misalnya angka yang tidak disebutkan berasal dari dokumen mana.
- Reviu tanpa jejak, yaitu kertas kerja yang tidak mencantumkan siapa dan kapan menelaahnya.
Bagaimana Kepemilikan dan Penyimpanan Kertas Kerja Audit?
Kertas kerja audit adalah milik auditor atau kantor akuntan publik yang melaksanakan penugasan, bukan milik entitas yang diaudit. Meski demikian, kepemilikan itu disertai kewajiban menjaga kerahasiaan atas seluruh informasi klien yang termuat di dalamnya.
Standar Audit (SA) 230 tentang Dokumentasi Audit meminta auditor merakit dokumentasi ke dalam file audit final secara tepat waktu setelah tanggal laporan auditor. Panduan penerapannya menyebut batas yang wajar umumnya tidak lebih dari 60 hari, dan masa simpan dokumentasi audit umumnya tidak kurang dari lima tahun sejak tanggal laporan auditor. Setelah file final dirakit, dokumentasi tidak boleh dihapus atau dibuang sebelum masa simpannya berakhir.
Di tingkat regulasi, Pasal 38 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 186/PMK.01/2021 tentang Pembinaan dan Pengawasan Akuntan Publik mewajibkan Akuntan Publik membuat kertas kerja yang menggambarkan proses dan hasil kerjanya serta disusun secara memadai sesuai Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Pelanggarannya dapat dikenai sanksi pembekuan izin paling singkat 1 tahun dan paling lama 2 tahun. Akuntan Publik yang mengajukan pengunduran diri juga harus menyatakan akan menyimpan kertas kerja paling singkat 5 tahun sejak penerbitan laporan, atau melimpahkan penyimpanannya kepada KAP (Pasal 11).
FAQ Seputar Kertas Kerja Audit
Apa itu kertas kerja audit?
Kertas kerja audit (KKA) atau audit working paper adalah dokumen yang dibuat auditor untuk mendokumentasikan informasi dan bukti yang diperoleh selama proses audit. KKA menjadi bukti pendukung atas opini auditor terhadap kewajaran laporan keuangan entitas yang diaudit.
KKA adalah singkatan dari apa?
KKA adalah singkatan dari Kertas Kerja Audit. Di lingkungan audit sektor publik, dokumentasi yang sama sering disebut KKP atau kertas kerja pemeriksaan.
Working paper adalah apa?
Working paper adalah istilah bahasa Inggris untuk kertas kerja, dan dalam konteks audit disebut audit working paper. Maknanya sama persis dengan kertas kerja audit atau KKA.
Apa saja unsur informasi dalam kertas kerja audit?
Unsur yang umumnya wajib ada: identitas penugasan, indeks dan referensi silang, tujuan pengujian, uraian prosedur yang dijalankan, bukti dan hasil pengujian, simpulan auditor, serta nama pembuat dan penelaah beserta tanggalnya.
Apa fungsi kertas kerja audit dalam proses audit?
Ada empat fungsi utama: mendukung opini auditor, mendokumentasikan seluruh tahapan audit dari perencanaan hingga penyelesaian, meningkatkan kualitas audit, serta meningkatkan akuntabilitas auditor atas pekerjaannya.
Apa saja karakteristik kertas kerja audit yang baik?
Lima karakteristik: lengkap (memuat semua informasi dan bukti relevan), akurat (bebas kesalahan dan mencerminkan keadaan sebenarnya), terorganisir (penataan dan penamaan yang konsisten), jelas (ringkas dan mudah dimengerti), serta konsisten dengan program audit dan laporan audit.
Apa saja jenis kertas kerja audit?
Lima jenis yang umum digunakan: program audit, bukti audit, analisis audit, laporan audit, dan kertas kerja pendukung lainnya seperti memo audit, kertas kerja korespondensi, serta kertas kerja rekonsiliasi.
Apa contoh kertas kerja audit?
Contoh yang paling umum adalah skedul pendukung pengujian saldo kas: daftar rekening, saldo per buku dan per bank, selisih beserta penjelasannya, tanda pengujian dengan legenda, referensi silang, serta simpulan auditor. Contoh lain mencakup program audit, neraca lajur, ringkasan jurnal penyesuaian, dan memo temuan.
Apa beda arsip permanen dan arsip kini?
Arsip permanen berisi informasi yang dipakai lintas periode, seperti akta pendirian, kontrak jangka panjang, dan kebijakan akuntansi. Arsip kini berisi dokumentasi satu periode audit, seperti program audit, neraca lajur, skedul utama dan pendukung, serta hasil konfirmasi.
Apa itu tickmark dalam kertas kerja audit?
Tickmark adalah tanda pengujian, misalnya centang atau simbol lain, yang menunjukkan prosedur apa yang sudah dilakukan atas suatu angka. Setiap tickmark harus dijelaskan dalam legenda pada kertas kerja yang sama.
Apakah akuntan publik wajib membuat kertas kerja?
Ya. Pasal 38 PMK 186/PMK.01/2021 mewajibkan Akuntan Publik membuat kertas kerja yang menggambarkan proses dan hasil kerjanya serta disusun memadai sesuai SPAP. Pelanggarannya dapat dikenai sanksi pembekuan izin 1 sampai 2 tahun.
Berapa lama kertas kerja audit harus disimpan?
Menurut panduan Standar Audit (SA) 230, masa simpan dokumentasi audit umumnya tidak kurang dari lima tahun sejak tanggal laporan auditor. Perakitan file audit final umumnya selesai paling lambat 60 hari setelah tanggal laporan auditor.
Siapa pemilik kertas kerja audit?
Kertas kerja audit adalah milik auditor atau kantor akuntan publik yang melaksanakan penugasan, bukan milik entitas yang diaudit. Kepemilikan ini disertai kewajiban menjaga kerahasiaan informasi klien.
Rapikan Program Kerja dan Tindak Lanjut Audit bersama Audithink
Mengelola program kerja, jadwal, dan tindak lanjut lintas penugasan secara manual membuat tim mudah kehilangan jejak. Audithink, internal audit management software untuk perusahaan dan BUMN di Indonesia, membantu tim audit internal lewat enam fitur utama: risk assessment, perencanaan audit berbasis risiko, template program kerja, notifikasi tenggat, monitoring tindak lanjut rekomendasi, dan laporan otomatis. Template program kerja membantu menyeragamkan prosedur yang kemudian didokumentasikan dalam kertas kerja.
Jadwalkan Demo Audithink untuk melihat cara kerjanya.
Konsultasi dengan Tim Audithink untuk membahas kebutuhan audit internal perusahaan Anda.



