
Foto oleh Cht Gsml di Unsplash
Persediaan yang tidak ditemukan, aset yang sudah tidak digunakan, atau penjualan yang masuk periode keliru dapat memengaruhi kewajaran laporan keuangan.
Artikel ini memberikan gambaran bagaimana auditor menguji asersi pada persediaan dan aset tetap melalui beberapa skenario yang dekat dengan aktivitas perusahaan.
Urgensi Pengujian Asersi Audit pada Akun Berisiko Tinggi
Asersi merupakan pernyataan manajemen mengenai informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Auditor menguji pernyataan tersebut melalui prosedur yang sesuai dengan risiko setiap akun.
Persediaan, aset tetap, dan pendapatan memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, prosedur pengujiannya tidak bisa disamakan.
Persediaan misalnya, membutuhkan perhatian terhadap kondisi fisik, jumlah barang, kepemilikan, dan nilai tercatat. Aset tetap memerlukan pemeriksaan keberadaan serta hak perusahaan atas aset tersebut.
Pendapatan juga memiliki risiko tersendiri, terutama terkait waktu pencatatan transaksi. Kesalahan cut-off dapat membuat pendapatan masuk ke periode yang tidak semestinya.
Pengujian asersi membantu auditor menentukan apakah informasi tersebut memiliki dasar yang memadai sebelum menyimpulkan hasil pemeriksaan.
Studi Kasus 1: Pengujian Asersi Manajemen Persediaan di Industri Manufaktur
Bayangkan sebuah perusahaan manufaktur memiliki persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi dalam jumlah besar.
Auditor perlu memastikan saldo tersebut benar-benar menggambarkan kondisi persediaan pada tanggal laporan. Pengujian tidak cukup hanya mencocokkan angka pada laporan dengan catatan gudang.
Prosedur juga perlu mempertimbangkan risiko kehilangan, pencatatan ganda, barang rusak, hingga kesalahan penilaian.
Pengujian Asersi Keberadaan dan Kelengkapan pada Prosedur Stock Opname
Asersi keberadaan berkaitan dengan apakah persediaan yang tercatat memang benar-benar ada.
Auditor dapat melakukan observasi stock opname dan memilih sejumlah item untuk dicocokkan antara kondisi fisik dengan catatan persediaan.
Misalnya, sistem mencatat 500 unit bahan baku tertentu. Auditor kemudian memeriksa jumlah fisiknya dan menelusuri hasil penghitungan tersebut ke dokumen pendukung.
Sebaliknya, asersi kelengkapan berfokus pada apakah seluruh persediaan yang seharusnya tercatat sudah masuk dalam catatan perusahaan.
Pengujian dapat dilakukan melalui penelusuran dari dokumen fisik menuju catatan akuntansi. Auditor juga dapat memperhatikan barang yang berada di area penerimaan, produksi, atau lokasi penyimpanan lain.
Perbedaan hasil penghitungan perlu ditelusuri sebelum auditor menentukan apakah terdapat salah saji.
Analisis Asersi Penilaian dan Alokasi pada Valuasi Persediaan Barangnya
Jumlah barang bukan satu-satunya hal yang perlu diperiksa dalam pengujian asersi audit untuk persediaan. Auditor juga perlu melihat apakah persediaan telah dicatat menggunakan nilai yang sesuai dengan kebijakan akuntansi perusahaan.
Persediaan yang rusak, usang, atau sulit dijual dapat membutuhkan penyesuaian nilai berdasarkan kondisi dan kebijakan akuntansi yang berlaku.
Misalnya, perusahaan masih mencatat produk lama pada nilai tertentu, padahal sebagian barang mengalami kerusakan selama penyimpanan.
Auditor dapat memeriksa dokumen pembelian, harga perolehan, kondisi barang, serta perhitungan penyesuaian nilai.
Pengujian tersebut berkaitan dengan asersi penilaian dan alokasi. Fokusnya adalah memastikan saldo persediaan tidak disajikan secara tidak tepat.
Contoh Asersi Audit Manufaktur pada Alur HPP dan Bahan Baku

Magnific
Persediaan juga berkaitan erat dengan Harga Pokok Penjualan atau HPP.
Kesalahan pencatatan bahan baku dapat memengaruhi persediaan sekaligus nilai HPP. Dampaknya kemudian dapat terlihat pada laba yang dilaporkan perusahaan.
Auditor dapat menelusuri penggunaan bahan baku dari catatan gudang menuju proses produksi dan pencatatan biaya.
Contohnya, bahan baku yang keluar dari gudang harus memiliki dokumen pendukung dan tercermin pada pencatatan produksi.
Auditor juga dapat membandingkan data produksi dengan penggunaan bahan baku untuk menemukan perbedaan yang perlu ditelusuri.
Pengujian ini membantu menghubungkan catatan fisik, dokumen operasional, dan angka pada laporan keuangan.
Studi Kasus 2: Penerapan Asersi Aset Tetap dan Pengakuan Pendapatan
Aset tetap dan pendapatan memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi keduanya dapat menimbulkan salah saji jika pencatatannya tidak didukung bukti memadai. Pengujian asersi audit untuk kedua area ini memerlukan pendekatan dan prosedur yang disesuaikan dengan risiko masing-masing.
Pada aset tetap, perhatian auditor dapat mencakup keberadaan aset, hak perusahaan, serta penghitungan depresiasi.
Sementara itu, pengujian pendapatan banyak berkaitan dengan validitas transaksi dan periode pengakuannya.
Analisis Asersi Aset Tetap Manufaktur (Keberadaan, Hak/Kewajiban, dan Depresiasi)
Sebuah perusahaan manufaktur mungkin memiliki mesin produksi, kendaraan operasional, bangunan, dan berbagai peralatan pendukung.
Dalam pengujian asersi audit untuk aset tetap, auditor dapat memeriksa keberadaan aset melalui inspeksi fisik. Nomor aset, lokasi, kondisi, serta informasi pada daftar aset dapat dibandingkan dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Asersi hak dan kewajiban berkaitan dengan apakah perusahaan memang memiliki hak atas aset yang dicatat.
Dokumen pembelian, faktur, kontrak, sertifikat, atau dokumen kepemilikan dapat menjadi bukti pendukung sesuai jenis aset.
Depresiasi juga perlu diperiksa. Auditor dapat menilai apakah metode, masa manfaat, nilai residu, dan perhitungan depresiasi telah diterapkan secara konsisten sesuai kebijakan akuntansi yang berlaku.
Jika ditemukan aset yang sudah tidak digunakan tetapi masih tercatat, auditor perlu menilai dampaknya terhadap laporan keuangan.
Verifikasi Asersi Pengakuan Pendapatan dan Cut-off Transaksi Penjualan
Pendapatan dapat memiliki risiko ketika transaksi dicatat terlalu cepat atau justru terlambat.
Misalnya, perusahaan mencatat penjualan pada akhir Desember, sementara barang baru dikirim pada Januari. Kondisi tersebut perlu diperiksa berdasarkan ketentuan pengakuan pendapatan yang berlaku.
Auditor dapat mengambil transaksi di sekitar tanggal tutup buku dan mencocokkannya dengan dokumen pendukung.
Dokumen tersebut dapat berupa pesanan pelanggan, surat jalan, faktur, serta bukti pengiriman atau penerimaan barang.
Prosedur tersebut membantu menguji cut-off, yaitu apakah transaksi telah dicatat pada periode yang tepat.
Auditor juga perlu mempertimbangkan ketentuan pengakuan pendapatan yang relevan. Tidak semua transaksi dapat dinilai hanya berdasarkan tanggal faktur.
Digitalisasi Dokumentasi Pengujian Asersi Menggunakan Audithink
Pengujian asersi menghasilkan banyak dokumen, mulai dari program audit, bukti pemeriksaan, hasil stock opname, hingga catatan temuan.
Jika semuanya dikelola secara terpisah, auditor dapat menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari dokumen pendukung.
Platform digital dapat membantu menghubungkan prosedur pengujian asersi audit, bukti, temuan, dan tindak lanjut dalam satu lingkungan kerja yang terintegrasi dan mudah diakses oleh seluruh tim audit.
Audithink dapat digunakan sebagai salah satu solusi untuk membantu tim audit mengelola dokumentasi dan proses pemeriksaan secara lebih terstruktur.
Pencatatan Hasil Stock Opname dan Issue Tracking pada Kertas Kerja Digital
Hasil stock opname dapat menjadi bagian dari bukti audit yang perlu didokumentasikan dengan rapi.
Auditor dapat mencatat prosedur, hasil pemeriksaan, selisih yang ditemukan, serta bukti pendukung pada working paper digital.
Jika terdapat selisih antara jumlah fisik dan catatan sistem, informasi tersebut dapat dicatat sebagai issue untuk ditindaklanjuti.
Pencatatan terpusat membantu tim mengetahui status setiap temuan tanpa harus memeriksa banyak file secara manual.
Dokumentasi juga menjadi lebih mudah ditelusuri ketika auditor atau reviewer membutuhkan bukti atas prosedur yang telah dilakukan.
Standarisasi Program Audit dan Pemetaan Risiko Akun Berisiko
Setiap akun memiliki risiko yang berbeda. Program audit sebaiknya disusun berdasarkan risiko dan tujuan pengujian yang ingin dicapai.
Akun persediaan dapat memiliki risiko terkait keberadaan, kelengkapan, serta penilaian. Aset tetap memiliki fokus berbeda, begitu pula dengan pendapatan.
Pemetaan tersebut membantu auditor menentukan prosedur yang relevan untuk setiap area pemeriksaan.
Dengan platform digital, program audit, risiko, prosedur, bukti, dan hasil pengujian dapat dikelola secara lebih terhubung.
Audithink membantu tim audit mengelola proses tersebut dalam satu platform sehingga dokumentasi tidak tersebar di berbagai tempat.
Penutup
Pengujian asersi audit membantu auditor menilai apakah informasi pada persediaan, aset tetap, dan pendapatan didukung kondisi serta bukti yang memadai.
Audithink membantu tim audit mengelola program, working paper, bukti, temuan, dan tindak lanjut secara lebih terstruktur. Pelajari solusinya melalui Audithink atau jadwalkan demo.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan pengujian asersi audit?
Pengujian asersi audit merupakan prosedur yang dilakukan auditor untuk memperoleh bukti mengenai pernyataan manajemen atas informasi dalam laporan keuangan.
Apa contoh pengujian asersi keberadaan pada persediaan?
Auditor dapat mengamati stock opname dan mencocokkan hasil penghitungan fisik dengan catatan persediaan untuk menguji keberadaan barang.
Mengapa asersi manajemen persediaan perlu diuji?
Persediaan dapat memiliki risiko terkait jumlah, kondisi, kepemilikan, dan nilai. Pengujian membantu auditor menemukan kemungkinan salah saji pada saldo tersebut.
Apa contoh asersi aset tetap manufaktur?
Contohnya mencakup keberadaan aset, hak perusahaan atas aset, serta ketepatan pengukuran dan pencatatan depresiasi.
Bagaimana auditor menguji cut-off pendapatan?
Auditor dapat memeriksa transaksi di sekitar tanggal tutup buku dan mencocokkannya dengan dokumen pendukung untuk menilai ketepatan periode pencatatan.
Apa manfaat digitalisasi dokumentasi pengujian asersi?
Digitalisasi membantu tim audit menyimpan prosedur, bukti, hasil pengujian, temuan, dan tindak lanjut secara lebih terstruktur serta mudah ditelusuri.



